Review Drama Korea Penthouse 2 (2021)
Tulisan kali ini juga bisa berarti apakah saya akan mengikuti drama Penthouse di musim ketiga setelah Taxi Driver?
Jawabannya adalah TIDAK.
Saya nggak mau ngikutin drama Penthouse 3.
*Saya agak spolier ya.
Isi Tulisan
- 1 Opera Sabun Jadi Kisah Murahan
- 2 Ada yang Bilang Inilah Drama!!
- 3 Karakter Anak-Anak Masih Menyebalkan
- 4 Kaya, Tinggal di Tempat Tinggi
- 5 Bagaimanapun….
- 6 Kesimpulan Review Drama Korea Penthouse 2 (2021)
Opera Sabun Jadi Kisah Murahan
Semoga nggak dibunuh sama fans garis keras drama ini ya.
Saat nonton Penthouse 2. Daripada merasa terbawa sama kisahnya. Saya malah merasa drama ini cukup menggelikan tapi nggak buat ketawa.
Mulai dari keadaan yang naik turun antara protagonis dan antagonis. Kemudian ada kisah Na Ae Gyo yang diperankan oleh Lee Ji Ah sebagai salah satu pemain kunci.
Yang mana sudah mati di drama lama, tapi ada kisah lika-liku untuk mengembangkan karakter Nyonya Shim kembali.
Penthouse 1, 2, dan bahkan 3. Bagi saya seperti peralihan peran utama dari Lee Ji Ah, Eugene, kemudian kembali pada Lee Ji Ah.
Sempat ada momen mengarukan saat Kang Mari marah besar ketika Jeni anaknya dirundung sampai botak. Kemudian ia berlutut seakan tobat. Tapi Kang Mari tetaplah Kang Mari dan Yoo Jeni tetaplah Yoo Jeni. Mereka tetap dengan pandangan mereka yang nggak pernah 100% bener.
Ada yang Bilang Inilah Drama!!
Banyak yang bilang inilah drama yang sesungguhnya. Di situlah saya sadar betul bahwa ketertarikan manusia sangatlah berbeda.
Saya merasa ini bukan drama! Ini sesuatu yang konyol tapi banyak orang yang suka. Endingnya saja seakan dibuat tidak akan pernah berakhir. Masih jelas dalam ingatan bahwa Penthouse 2 akan ending di episode 12. Ternyata ada 13.
Ketidakmenyangkaan lagi adalah drama ini masih bergulir di musim ketiga. Hanya diberi jeda satu buah drama sebagai pembatas. Kemudian “gas” lagi.
SBS kayaknya belum bisa mau move on dari ratingnya di hari itu sebagai ganjaran untuk Penthouse 2. Mereka ingin “lagi”.
Kita semua tahulah, di situ ada keramaian, di situ ada cuan.
Makanya nggak usah banyak komentar dan membandingkan dirimu dengan Awkarin yang katanya beli Hotel tapi cuma iklan konten doang.
Mereka yang cuan, orang-orang yang kebagian ributnya doang.
Karakter Anak-Anak Masih Menyebalkan
Anaknya J&T apalagi. hadeehhhh. Anaknya pasangan Pak Lee dan Sanga juga. Bahkan sosok Rona.
Masih ngomongin aja Trofi dari Cheong A. Fokus mereka dari dulu nggak jauh-jauh.
Bahkan saya merasa anak-anaknya J&T terutama yang perempuan itu setidaknya dapat balasan yang setimpal. Nah ini????
Dahlah.
Emang dramanya nggak pernah bener aja.
Coba bayangkan saja, SBS mungkin akan produksi lagi dan lagi musim drama ini. Udah mulai kayak sinetron Indonesia aja.
Kaya, Tinggal di Tempat Tinggi
Sudah berapa momen saya ditunjukkan bahwa kebanyakan karakter di sini ingin kaya padahal sudah kaya. Ingin tinggi bahkan sudah tinggi dalam ukuran jabatan manusia.
Keinginan-keinginan ini agaknya menjadi pembenaran sudut pandang lain, bahwa orang kaya yang masih mencari kekayaan adalah orang yang tidak benar-benar kaya. Mereka adalah orang miskin yang bahkan lebih dari miskin.
*geleng-geleng lagi.

Tarik napas juga.
Cukup tahu aja akhirnya bagaimana selera banyak orang. Emang ajaib. Seperti konten Youtubenya Atta yang sudah ada pelanggan sebanyak 27 juta. Kemudian ia berharap bakalan nambah ketika Bininya hamidun.
Sebegitunya kah kehidupan dimonetisasi? Tanpa batasan? Bahkan anak-anak yang belum hadir juga bisa dijadikan doa untuk penambahan pelanggan di kanal Youtube?
Saya banyak jengah sama kejadian-kejadian. Nggak di drama, nggak di internet. Sorry jadi agak melebar. Intinya, selera emang nggak bisa dipaksakan. Kalian boleh dan bebas mau nonton Penthouse 2, 3, 4, 5 dst. Boleh banget.
Sbs juga suka-suka mereka mau memproduksi dramanya seperti apa.
Bagaimanapun….
Tema Makjang, atau bahasa lainnya Opera Sabun juga pernah menjadi drama yang layak tonton. Meski jawabannya bukanlah Penthouse. *bagi saya lho ya.
Yang jelas musim pertama dan kedua sama-sama ada di ide cerita yang bikin saya takjub aja. Takjub dengan respon orang-orang dan dramanya emang nggak pakai nalar banget.
Bagi saya terlalu banyak adegan yang mengganggu. Bahkan lebih mengganggu daripada adegan kekerasan di drama tentang kepolisian. Mata yang melotot, emosi yang berlebih, kebencian yang nggak ada abis, keinginan yang terus berkobar, dan bajingan yang nggak mati-mati.
Kesimpulan Review Drama Korea Penthouse 2 (2021)
Nggak suka.
Lebih nggak suka.
Musim ketiganya nggak akan saya lihat seperti yang saya bilang di awal.
Masalah selera aja. Saya merasa drama ini adalah hal-hal yang terlalu berlebihan. Nggak ada hal bijak yang bisa saya dapat. Kecuali membiasakan diri untuk sabar dan gampang kepancing emosi.
Bagaimanapun ini hanyalah drama.
Saya sudah jengah.
Terima kasih telah membaca yaa.